Jumat Kelabu
Siang itu, aku sedang menanti paman menjemputku. Sambil kunikmati hujan deras yang sedang megguyur sekolahku. Hanya dentingan jam dan beberapa teman yang menemaniku di kelas yang sunyi ini. Satu, dua, tiga, empat.. nah kali ini untuk yang kelima kali aku curi-curi pandang ke arah jendela. Tetapi bukan karena aku suka si jendela. Melainkan untuk memastikan apakah aku sudah dijemput ataukah belum. Tak lama kemudian, paman pun datang dengan mengendarai motor Jupiter warna oranye kesayangannya. Dari jendela, terlihat paman melihatku dan mengirimkan senyuman khasnya ke arahku. Entah mengapa, mungkin karena paman habis memakai backing soda senyumku pun jadi ikut mengembang.
Untung saja
hari ini adalah hari Jumat. Dimana seragam sekolah hari ini tidak dikenakan
lagi esok hari. Sebab, ternyata mantel paman tak cukup jika kami pakai berdua.
Namun, baru saja jalan seragamku langsung basah kuyup. Pikiranku hanya tertuju
pada isi tasku. Semoga saja buku-bukuku juga tidak ikut kebasahan. Siang
menjelang sore ini, aku berhasil mendapatkan bonus. Selain kemacetan yang aku
dapatkan, aku mendapatkan cipratan air dari mobil-mobil yang melintas di
dekatku. Dan hal itu benar-benar membuat rok putihku kotor. Saat kami di dekat
perempatan, tiba-tiba terdengar suara makbrukk.. dari arah belakang. Saat kami
tengok, ternyata ada seorang mahasiswi yang menghantam keras mobil jazz berlapis
cat berwarna silver yang ada di depannya. Karena belum juga ada orang yang
menolong mahasiswi itu. Paman pun turun tangan. Dengan gagah paman mendekati
dan mencoba menolong mahasiswi yang tergoleh lemas itu. Sambil mengusap
buliran-buliran air hujan yang mulai merata di wajahku. Kulihat paman sedang
mencoba membantu mahasiswi itu berdiri dengan memegang erat kedua lengan mahasiswi
itu. Kejadian ini benar-benar seperti adegan akting sepasang kekasih yang
pernah kulihat di FTV-FTV. Semoga saja, tante yang sedang ada di rumah, tidak
cemburu jika melihat hal itu. Kemudian oleh orang-orang mahasiswi itu langsung
di bawa ke rumah sakit terdekat. Sedangkan aku dan paman melanjutkan perjalanan
pulang. Sebelum kami pulang, kami sempat melaporkan kejadi ini kepada polisi
yang terlihat sedang mengatur jalannya lalu lintas yang semrawut itu. Namun,
polisi itu yang ada malah menghiraukan kami. Perkataan kami seperti angin lalu
baginya. Mungkin karena betapa sibuknya polisi itu. Tapi tak apa, kalau
polisinya seganteng itu, aku ikhlas dengan sepenuh hati kalau harus dikacangi.
Sepanjang
perjalanan pulang, aku benar-benar merinding kedinginan. Semoga saja setelah
ini aku tak jatuh sakit karena masuk angin. Karena besok Sabtu ada pelajaran
favoritku, yaitu olahraga. Di sepanjang jalan, kemacetan tak dapat dihindari
dan selalu bersama kami. Mungkin sudah menjadi teman yang selalu setia menemani
perjalanan kami. Ya teman. Teman tapi menyusahkan dan menyebalkan. Mungkin aku
bisa mengganti sedikit lirik lagu Lenka “trouble is a friend” menjadi “traffic
jam is a friend. But, traffic jam is a foe”.
Kami
sampai di rumah sore hari. Hari ini aku benar-benar merasakan KMP (Kesel,
Mangkel, Pegel). Sampai di rumah, aku langsung bergegas mandi supaya tidak
masuk angin. Namun, apa yang terjadi? Terjadi kemacetan juga di depan kamar
mandi. Kudapati sepupu-sepupuku mengantri untuk mandi. Ada juga yang berebut
menjadi antrian pertama. Sampai-sampai adegan tipung-tipungan terjadi disini.
Aaaa….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar